Sabtu, 27 Februari 2021

Stiger, Pamekasan, Nihil

Sekitar pertengahan bulan Februari 2021, saya beli mata kail via online di daerah Gersik, Jawa Timur. Mereknya Gamaru Chinu size 6.



Waktu saya lihat, gambar tampilannya menarik dengan warna hitam mengkilap. Kail itu saya beli seharga Rp. 12.000/kotak. Dalam satu kotak berisi 100 pcs.

Lalu, kail itu saya pakai mancing pada hari kamis 25 Februari 2021 ke Stiger, Pademawu, Pamekasan.

Dari pagi sudah berulang kali mencoba memancing. Namun, hasilnya tak ada sambaran. Hingga saya dan teman-teman harus rela berlari sekencang mungkin untuk menghindari hujan yang datang secara tiba-tiba.

Hari itu, air laut mulai pasang sekitar jam 9 pagi. Kalau saja hembusan angin saat itu tidak menderu hingga membuat permukaan air muara bergetaran, kemungkinan di antara saya dan teman ada yang strike.

Tapi, nasib kurang berpihak. Ikan tak ada yang menyambar umpan. Yang ada hanya kail tersangkut hingga patah.

Saya heran. Masa iya kail yang masih baru bisa pata lantaran tersangkut jaring. Biasanya, senarnya yang putus.

Dari situ, saya mulai ingin mencari mata kail lain yang terbuat dari material stainless. Siapa tahu lebih awet dan aman dari korosi.

Sabtu, 20 Februari 2021

dari bekas menjadi hal baru

Pada sekitar 28 Januari 2021, sorang teman datang pada saya. Dia memberitahukan bahwa sandalnya putus saat berwudhu' di kamar mandi.Dari bekas jadi hal baru.



Pada sekitar 28 Januari 2021, sorang teman datang pada saya. Dia memberitahukan bahwa sandalnya putus saat berwudhu' di kamar mandi.

Selesai memberitahukan, teman itu mengutarakan keinginannya untuk pinjam sandal karena hendak menghadiri undangan.

Atas dasar kasihan dan kemanusiaan, saya pun memberukan pinjaman sandal yang layak pakai untuk pergi ke acara dimaksud.

Setelah saya berikan pada teman tersebut, saya menanyakan, apakah sandal itu masih diperlukan atau sudah tidak diharapkan lagi.

Lalu, teman tersebut sudah tidak mengharapkan sandal itu lagi. Maka, sandal itu saya ambil agar tidak merusak dan mengotori halaman kamar mandi.

Selesai diamankan, sejenak saya berpikir, mau diapakan sandal tersebut. Dibuangkah, dibiarkankah, dibakarkah? Atau kah kah yang lain?

Jika dibuang, maka kemungkinannya, jumlah sampah yang berasal dari sandal bekas akan bertambah di negeri ini. Buktinya, setiap kali saya jalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, banyak berkeliaran sandal bekas mengapung dan berserakan di pinggiran pantainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah yang tercipta dari sandal bekas, sandal teman itu saya ambil dan saya bikin aransemin ulang yang pada akhirnya berubah jadi pelampung. Dengan begitu, teman-teman yang suka mancing bisa menggunakannya sebagai pelampung pancing.

Sehingga, sandal bekas milik teman tidak terbuang begitu saja.

Selesai memberitahukan, teman itu mengutarakan keinginannya untuk pinjam sandal karena hendak menghadiri undangan.

Atas dasar kasihan dan kemanusiaan, saya pun memberukan pinjaman sandal yang layak pakai untuk pergi ke acara dimaksud.

Setelah saya berikan pada teman tersebut, saya menanyakan, apakah sandal itu masih diperlukan atau sudah tidak diharapkan lagi.

Lalu, teman tersebut sudah tidak mengharapkan sandal itu lagi. Maka, sandal itu saya ambil agar tidak merusak dan mengotori halaman kamar mandi.

Selesai diamankan, sejenak saya berpikir, mau diapakan sandal tersebut. Dibuangkah, dibiarkankah, dibakarkah? Atau kah kah yang lain?

Jika dibuang, maka kemungkinannya, jumlah sampah yang berasal dari sandal bekas akan bertambah di negeri ini. Buktinya, setiap kali saya jalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, banyak berkeliaran sandal bekas mengapung dan berserakan di pinggiran pantainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah yang tercipta dari sandal bekas, sandal teman itu saya ambil dan saya bikin aransemin ulang yang pada akhirnya berubah jadi pelampung. Dengan begitu, teman-teman yang suka mancing bisa menggunakannya sebagai pelampung pancing.

Sehingga, sandal bekas milik teman tidak terbuang begitu saja.

Mangunan mantap


Sabtu pagi (20-02-2021), saya jalan-jalan ke daerah Mangunan, Pamekasan. Rencana awal mau berangkat bertiga. Tetapi, berhubung masih ada yang minta dikerokin, maka saya putuskan untuk berangkat belakangan menyusul dua teman yang sudah start duluan.

Selesai mengerokin keluarga, saya berangkat sendirian mengendarai kuda besi buatan Jepang keluaran 2013 itu dengan kecepatan sedang.

Udara pagi saat itu terasa begitu dingin. Sehingga, kalau dipaksakan kencang, efeknya bisa masuk angin dan hal itu kurang baik. Bair pelan asal selamat saja.

Samapi di pinggir sungai, saya mas lihat kendaraan teman sudah terparkir rapi. Saya senang melihatnya. Karena kalau ada sepedanya, orangnya pasti tidak jauh di sekitar itu.

Cuma, yang membuat saya bingung, bagaimana cara menyeberangi sungai di hadapan saya. Perahunya terparkir sebanyak 6 buah. Supirnya tidak ada.

Orang bilang, kalau kesingan bisa-bisa ketinggalan. Masa iya saya harus menunggu supir perahu setengah hari? Tak mungkin lah.

Saya tidak punya kemungkinan lagi untuk menyerangi sungai itu. Nahkodanya sudah pulang.

Dari pada menunggu sesuatu yang tidak jelas, lebih baik putar balik saja. Mencari spot terdekat yang ikannya juga besar-besar dan banyak.

Lalu, saya putar sepeda dan segera menuju ke muara yang ada pintu masuk airnya: muara mangunan.

Syukur Alhamdulillah. Di muara itu saya dapat tiga ekor ikan: kakap merah, tompel dan satunya lagi saya tidak tau namanya.

 Semalam 07-08-2021, saya pergi malam mingguan dengan memancing. Tempatnya sama seperti hari-hari sebelumnya: Lembung, Pamekasan. Selesai sh...