Kamis, 26 Agustus 2021

 Semalam 07-08-2021, saya pergi malam mingguan dengan memancing. Tempatnya sama seperti hari-hari sebelumnya: Lembung, Pamekasan.


Selesai shalat Maghrib, saya berangkat ke tempat penjual udang di Bunder, Pamekasan.


Tempat itu merupakan tempat penjual udang yang baru muncul. Saya ingin coba aja beli di tempat yang baru itu.


Sampai di tempat, orangnya tidak ada yang ditandai dengan pintu tertutup.


Salah satu teman saya ada yang mengintip dari celah pintu, melihat bahwa stok udang masih banyak. Cuma tidak ada orangnya.


Saya mengajak pindah ke penjula udang lainbyang letaknya ada di Mundung, Pamekasan. Biasanya, di Mondung itu selalu ada stok.


Dalam perjalanan menuju Mondong itu, tiba-tiba hati saya degdekan, sial tak menentu tanpa sebab yang pasti.


Perasaan itu terus berlanjut hingga samapi di penjual udang tetsebut.


Salah satu teman saya langsung memanggil penjualnya seraya menanyaka stok udangnya ada apa tidak. Ternyata ada tapi tinggal udang putih.


Deg. Seketika hati saya tambah sial. Pengalaman saya, udang putih itu cepat mati dan saya tidak pernah dapat kakap dengan menggunakan umpan udang putih.


Saya berisaha menangkis keraguan itu dengan kalimat "yang ngasi rejeki itu Gusti Allah SWA. Bukan udangnya". Kata hati saya. Tapi tetap saja.


Sampai dipemancingan, senter orang yang memanen tambaknya semakin memperparah kegetiran hati saya.


Bagai mana tidak? Orang itu sembarang menyenter wajah dan tempat pemancingan saya.

Jadinya, umpan saya tidak ada yang menyambar hingga saya harus pulang dengan tangan hampa sampai jam 1 malam.

Sepi sambaran

 Rabu pagi 25-08-2021, saya pergi mancing ke Lembung, Pamekasan. Kesempatan itu hanya tercipta antara saya dan sipu, teman saya.


Satu teman lagi tidak ikutan mancing karenah entah kenapa alasannya. Dia adalah Imam, sepupu saya.


Di malam selasa, 24-08-2021, kesepakatan mancing tercipta. Agar agenda mamcing tidak gagal, maka malam itu pula penjual ufang yang biasa teman-teman beli ditelfon; menanyakan stok udang yang ada.


Kenapa ditanyakan terlebih dahulu, kenapa tidak langsung datangi dan membeli? Karena, malam itu purnama hampir bulat sempurna.


Biasanya, di malam purnama itu, udang hampir dipastikan tidak ada. Walaupun ada, sedikit sekali.


Setelah dihubungi via WA, maka penjual udang mengabarkan bahwa stok udang masih ada.


Lalu, Num Sipul memesannya saat itu pula guna diparani keesokan paginya.


Pada jam setengah enam lewat lima menit, Num Sipul sampai di rumah. Lalu, berangkatlah berdua ke tempat penjual udang yang semalam sudah dipesan. Lokasinya ada di Mondung, Pamekasan.


Saya dan Num Sipul membawa motor masing masing karena dia mau pulang duluan di kala sudah Duhur.


Sedang saya rencananya mau full day seharian kalau banyak sambaran.


Di Mondung, saya dan Num Sipul langsung beli 2 ons seharga 20.000, 10.000/ons. Terus segera meluncur ke tempat pemancingan.


Tanpa pakai lama, umpan langsung diuncal. Berbagai percobaan pun di gunakan untuk membujuk barramondi makan.


Tapi, hasilnya nihil. Ikan target sepertinya tidak tertarik pada umpan yang kita lempar.


Yang ada hanya sambaran ikan kecil (Rekrek) yang bisanya hanya menghancurkan dan membunuh udang hidup yang kita jadikan umpan.


Menjelang Duhur, Mino yang digunakan Num Sipul disambar ikan besar. Tapi sayang sekali, benangnya tak mampu menarik ikan kepermukaan karena putus.


Sedang saya hanya berhasil strike ikan kerong2 satu ekor. Dua kali strike sembilang tapi lepas.


Usai Adzan duhur berkumandang, Num Sipul pulang duluan karena punya agenda mau beli kursi bersama orang lain.


Jadi, pemancingan tinggal saya seorang. Saya tetap bertahan dan sabar walau udang yang dijadikan umpan sudah mati semua. Aerotor sudah kurang bertenaga. Batreynya low.


Namun, sebulum saya hengkang dari pemaancingan, umpan udang mati yang saya pakai disambar payus. Jadilah hasil pancingan saya dua ekor. Lalu, saya pulang.

Selasa, 18 Mei 2021

Sabtu, 15 Mei 2021

Malam itu, acara silaturrahim ke famili-famili sudah banyak yang tersambangi. Saya berniat untuk segera pulang ke rumah Prancak.

Rasa capek dan lemas sudah terasa betul di badan setelah seharian full silaturrahim. Acara selanjutnya, saya hendak pulang beristirahat di rumah. Menghilangkan capek yang saya rasakan.

Badan sudah panas. Kepala terasa sakit. Begitulah ketika saya kurang istirahat. Badan kecapean.

Ketika hendak pulang, istri manyun lantaran saya tidak menginap di rumahnya walau semalam.

Perselisihan kecilpun terjadi. Yang pada ahirnya saya tak jadi pulang ke rumah karena terlalu dingin.

Segera saya istirahat meski ada sanak famili yang datang bermain. Saya tak peduli.

Esok paginya, saya langsung pulang. Mengingat jadwal kerja saya sudah aktif kembali.

Libur hari raya Idul Fitrih hanya dua hari (14 & 15 Mei 2021). Agar tidak telat masuk kerja, saya segera balik.

Saya tidak mengecek perlengkapan kedaraan saya sebelum balik. Dengan terburu-buru, saya tancap gas menunggangi motor tunggangan saya.

Biasanya, perlengkapan kendaraan saya selalu siap di dalam bagasi motor.

Namun, hari itu saya lupa. Sampai di rumah, pikiran mulai curiga tentang surat motor dan uang saya. Perjalanan tetap berlanjut.

Samapai di desa Sobuk Timur, saya baru memeriksa surat-surat dan dompet saya di bagasi.

Ternyata, betul. Dompet dan surat-surat motor tertinggal di rumah istri.

Sekitika, saya terkejut. Bensin motor yang sudah pas-pasan membuat beban pikiran bertambah mengingat sisa perjalanan masih panjang, belum dilalui seperempatnya.

Saya bongkar-bongkar jok, berharap ada sisa uang yang tidak dimasukkan ke dompet yang tertinggal. Tapi, tidak ada uang sama sekali.

Satu-satunya uang tersisa ada di saku baju yang saya pakai: jumlahnya Rp. 10.000.

Apes. Berbagai keganjalan mendatangi pikiran. Uang sepuluh ribu itu kalau beli bensin hanya cukup sampai di tempat kediaman saya, Pamekasan. Itupun kalau tarikan gas normal tidak terlalu kencang. Kalau laju motor dengan kecepatan tinggi, kemungkinan bensil satu liter tidak cukup samapai tujuan.

Yang sangat menydihkan adalah, kondisi ban depan yang sudah mulus tidak ada giginya sama sekali. Ban haus itu biasanya tidak tahan dengan kondisi jalan terlalu panas. Bisa kempes.

Dan, kalau kempes, bagaimana cara menambalnya mengingat uang saya tertinggal.

Lebih menakutkan lagi, hari itu adalah hari pasaran di Keppo, Pamekasan.

Biasanya, di hari pasaran rentan sekali jalanan ada polisi. Bisa-bisa, speda saya yang diangkut Polisi kalau surat-suratnya tidak ada.

Dengan penuh kehati-hatian, laju motor saya tarik seperlunya saya. Mata tak henti-hentinya toleh kanan kiri berharap tidak ada polisi turun ke jalanan.

Perlahan tapi pasti, saya selamat sampai tujuan, tanpa hambatan. Bensi tersisa secuil di tanggki motor. Sukurlah saya bisa sampai dengan selamat. Alhamdulillah.

Kamis, 01 April 2021

Lempung, Pamekasn: strike lagi

Kamis pagi, 01 Maret 2021, saya menyisir pinggiran pantai bagian timur: tepatnya di sekitar Lempung, Pamekasan.



Bersama adik ipar, istrinya Romlah, saya mangkat pagi membawa pancing dan peralatannya.

Umpan saya dan ipar beli di Mundung, Pamekasan sebagai pemikat kakap agar mau menyantapnya.

Sampai di dekat penjual udang, saya berpapasan dengan sepupu dan teman kari (Imam dan Sipul Arizona). Ia hendak mancing juga ke arah timur. Cuma beda tempat dengan saya.

Di pemancingan, saya hanya bertahan setengah hari. Hasilnya lumayan: kakap 5 dan payus 2.

Itu sebuah pengalaman yang cukup baik untuk menghilangkan beban pikiran.

Duhur berkumandang, saya pergi pulang. Hujan deras yang mengguyur membuat saya segera pulang. Dari pemancingan sampai rumah hujan lebat mengguyuri segala tubuh.

Sabtu, 27 Februari 2021

Stiger, Pamekasan, Nihil

Sekitar pertengahan bulan Februari 2021, saya beli mata kail via online di daerah Gersik, Jawa Timur. Mereknya Gamaru Chinu size 6.



Waktu saya lihat, gambar tampilannya menarik dengan warna hitam mengkilap. Kail itu saya beli seharga Rp. 12.000/kotak. Dalam satu kotak berisi 100 pcs.

Lalu, kail itu saya pakai mancing pada hari kamis 25 Februari 2021 ke Stiger, Pademawu, Pamekasan.

Dari pagi sudah berulang kali mencoba memancing. Namun, hasilnya tak ada sambaran. Hingga saya dan teman-teman harus rela berlari sekencang mungkin untuk menghindari hujan yang datang secara tiba-tiba.

Hari itu, air laut mulai pasang sekitar jam 9 pagi. Kalau saja hembusan angin saat itu tidak menderu hingga membuat permukaan air muara bergetaran, kemungkinan di antara saya dan teman ada yang strike.

Tapi, nasib kurang berpihak. Ikan tak ada yang menyambar umpan. Yang ada hanya kail tersangkut hingga patah.

Saya heran. Masa iya kail yang masih baru bisa pata lantaran tersangkut jaring. Biasanya, senarnya yang putus.

Dari situ, saya mulai ingin mencari mata kail lain yang terbuat dari material stainless. Siapa tahu lebih awet dan aman dari korosi.

Sabtu, 20 Februari 2021

dari bekas menjadi hal baru

Pada sekitar 28 Januari 2021, sorang teman datang pada saya. Dia memberitahukan bahwa sandalnya putus saat berwudhu' di kamar mandi.Dari bekas jadi hal baru.



Pada sekitar 28 Januari 2021, sorang teman datang pada saya. Dia memberitahukan bahwa sandalnya putus saat berwudhu' di kamar mandi.

Selesai memberitahukan, teman itu mengutarakan keinginannya untuk pinjam sandal karena hendak menghadiri undangan.

Atas dasar kasihan dan kemanusiaan, saya pun memberukan pinjaman sandal yang layak pakai untuk pergi ke acara dimaksud.

Setelah saya berikan pada teman tersebut, saya menanyakan, apakah sandal itu masih diperlukan atau sudah tidak diharapkan lagi.

Lalu, teman tersebut sudah tidak mengharapkan sandal itu lagi. Maka, sandal itu saya ambil agar tidak merusak dan mengotori halaman kamar mandi.

Selesai diamankan, sejenak saya berpikir, mau diapakan sandal tersebut. Dibuangkah, dibiarkankah, dibakarkah? Atau kah kah yang lain?

Jika dibuang, maka kemungkinannya, jumlah sampah yang berasal dari sandal bekas akan bertambah di negeri ini. Buktinya, setiap kali saya jalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, banyak berkeliaran sandal bekas mengapung dan berserakan di pinggiran pantainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah yang tercipta dari sandal bekas, sandal teman itu saya ambil dan saya bikin aransemin ulang yang pada akhirnya berubah jadi pelampung. Dengan begitu, teman-teman yang suka mancing bisa menggunakannya sebagai pelampung pancing.

Sehingga, sandal bekas milik teman tidak terbuang begitu saja.

Selesai memberitahukan, teman itu mengutarakan keinginannya untuk pinjam sandal karena hendak menghadiri undangan.

Atas dasar kasihan dan kemanusiaan, saya pun memberukan pinjaman sandal yang layak pakai untuk pergi ke acara dimaksud.

Setelah saya berikan pada teman tersebut, saya menanyakan, apakah sandal itu masih diperlukan atau sudah tidak diharapkan lagi.

Lalu, teman tersebut sudah tidak mengharapkan sandal itu lagi. Maka, sandal itu saya ambil agar tidak merusak dan mengotori halaman kamar mandi.

Selesai diamankan, sejenak saya berpikir, mau diapakan sandal tersebut. Dibuangkah, dibiarkankah, dibakarkah? Atau kah kah yang lain?

Jika dibuang, maka kemungkinannya, jumlah sampah yang berasal dari sandal bekas akan bertambah di negeri ini. Buktinya, setiap kali saya jalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, banyak berkeliaran sandal bekas mengapung dan berserakan di pinggiran pantainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah yang tercipta dari sandal bekas, sandal teman itu saya ambil dan saya bikin aransemin ulang yang pada akhirnya berubah jadi pelampung. Dengan begitu, teman-teman yang suka mancing bisa menggunakannya sebagai pelampung pancing.

Sehingga, sandal bekas milik teman tidak terbuang begitu saja.

Mangunan mantap


Sabtu pagi (20-02-2021), saya jalan-jalan ke daerah Mangunan, Pamekasan. Rencana awal mau berangkat bertiga. Tetapi, berhubung masih ada yang minta dikerokin, maka saya putuskan untuk berangkat belakangan menyusul dua teman yang sudah start duluan.

Selesai mengerokin keluarga, saya berangkat sendirian mengendarai kuda besi buatan Jepang keluaran 2013 itu dengan kecepatan sedang.

Udara pagi saat itu terasa begitu dingin. Sehingga, kalau dipaksakan kencang, efeknya bisa masuk angin dan hal itu kurang baik. Bair pelan asal selamat saja.

Samapi di pinggir sungai, saya mas lihat kendaraan teman sudah terparkir rapi. Saya senang melihatnya. Karena kalau ada sepedanya, orangnya pasti tidak jauh di sekitar itu.

Cuma, yang membuat saya bingung, bagaimana cara menyeberangi sungai di hadapan saya. Perahunya terparkir sebanyak 6 buah. Supirnya tidak ada.

Orang bilang, kalau kesingan bisa-bisa ketinggalan. Masa iya saya harus menunggu supir perahu setengah hari? Tak mungkin lah.

Saya tidak punya kemungkinan lagi untuk menyerangi sungai itu. Nahkodanya sudah pulang.

Dari pada menunggu sesuatu yang tidak jelas, lebih baik putar balik saja. Mencari spot terdekat yang ikannya juga besar-besar dan banyak.

Lalu, saya putar sepeda dan segera menuju ke muara yang ada pintu masuk airnya: muara mangunan.

Syukur Alhamdulillah. Di muara itu saya dapat tiga ekor ikan: kakap merah, tompel dan satunya lagi saya tidak tau namanya.

Jumat, 08 Januari 2021

Sehari bersama si kuda besi

Januair 2021 merupakan ulang tahun ke-7 si keda besi buatan Jepang tunggangan saya.

 


Setiap awal tahun, saya setia membayar pajak kendaraan demi kenyamanan dan ke tenangan dalam berkendara.


Tadi pagi, sengggang kerja saya digunakan secara penuh untuk melunasi kewajiban saya pada negara untuk membayar pajak kendaraan.


Sebenarnya, saya ingin membayarnya pada 2 Januari 2021 empat hari yang lalu. Tetapi, waktu telfon penjaga Bank Jatim seraya tanya buka atau tutup, ternyata, ia menjawab Bank Jatim sedang tutup karena libur tahun baru.


Sehingga, saya menunda pembayarannya pada tadi pagi, selasa, 05 Januari 2021.


Berangkat pagi-pagi dengan harapan agar dapat antrian cepat. Saya berangkat sekitar jam 05:30 WIB. Sampai di tempat jam menunjukkan jam 06:30 WIB.


Dalam hati berkeyakinan bahwa antrian yang saya dapat pasti masuk urutan 3 besar. Saya pikir dengan dapat antrian 3 besar karena KTP tidak ketemu saat dicari.


Sehingga, saya tetap berangkat meski tanpa bawa kartu identitas kepemilikan.


Di Bank Jatim, saya sampai duluan. Lalu, seorang perempuan datang dengan kepentingan yang sama: bayar pajak Motor.


Orang ketiga, yang datang Malah salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Al-forqon.


Lama menunggu membuat hati dan perasaan gelisah. Sambil lalu, saya nelfon penjaganya seraya menanyakan jam berapa Bank buka.


Dari panggilan telfon itu, penjaganya mengabarkan bahwa Bank akan buka pada jam 08:00 WIB.


Dengan begitu, saya harus rela bersabar menunggu Bank buka selama 90 menit atau satu setengah jam. Mirip dengan waktu standart dalam pertandingan sepak bola.


Setelah Bank buka, ternyata, saya masih harus menunggu lagi sampai jam 10 lantaran dari hari senin 04 Januari 2021link sedang trouble dan hari selasa pagi 05 Januari 2021 masih trouble lagi. 


Di hari senin sebelumnya, ada bannyak berkas pajal kendaraan yang sudah selesai diproses tetapi belum sempat diparani oleh pemiliknya.


Berkas-berkas itu baru diparani pada hari selasa keesokan harinya. Dari kerumunan banyak orang tersebut, saya dan tiga orang pertama yang datang duluan harus mengalah menunggu di luar. Hal itu membuat perasaan saya cemburu.


Cemburu dalam artian, yang datang duluan kenapa harus dipanggil masul jam 10.


Maklum, saya tidak tahu bahwa banyak berkas yang tidak selesai sehari sebelumnya.


Usai bayar pajak, saya beralih ke tongkrongan yang lain: bengkel motor.


Di tempat kedua ini, saya harus mengganti Gear motor karena gigi gear belakang sudah hampir ompong dan saat berjalan timbul bunyak berisik, kretek-kretek.


Maka, agar kendaraan normal lagi saat berjalan, gear saya ganti satu set. Setelah diganti, kendaraan kembali energik lagi.


Alhamdulillah 'Alaa kulli hall.

 Semalam 07-08-2021, saya pergi malam mingguan dengan memancing. Tempatnya sama seperti hari-hari sebelumnya: Lembung, Pamekasan. Selesai sh...