Semalam 07-08-2021, saya pergi malam mingguan dengan memancing. Tempatnya sama seperti hari-hari sebelumnya: Lembung, Pamekasan.
Selesai shalat Maghrib, saya berangkat ke tempat penjual udang di Bunder, Pamekasan.
Tempat itu merupakan tempat penjual udang yang baru muncul. Saya ingin coba aja beli di tempat yang baru itu.
Sampai di tempat, orangnya tidak ada yang ditandai dengan pintu tertutup.
Salah satu teman saya ada yang mengintip dari celah pintu, melihat bahwa stok udang masih banyak. Cuma tidak ada orangnya.
Saya mengajak pindah ke penjula udang lainbyang letaknya ada di Mundung, Pamekasan. Biasanya, di Mondung itu selalu ada stok.
Dalam perjalanan menuju Mondong itu, tiba-tiba hati saya degdekan, sial tak menentu tanpa sebab yang pasti.
Perasaan itu terus berlanjut hingga samapi di penjual udang tetsebut.
Salah satu teman saya langsung memanggil penjualnya seraya menanyaka stok udangnya ada apa tidak. Ternyata ada tapi tinggal udang putih.
Deg. Seketika hati saya tambah sial. Pengalaman saya, udang putih itu cepat mati dan saya tidak pernah dapat kakap dengan menggunakan umpan udang putih.
Saya berisaha menangkis keraguan itu dengan kalimat "yang ngasi rejeki itu Gusti Allah SWA. Bukan udangnya". Kata hati saya. Tapi tetap saja.
Sampai dipemancingan, senter orang yang memanen tambaknya semakin memperparah kegetiran hati saya.
Bagai mana tidak? Orang itu sembarang menyenter wajah dan tempat pemancingan saya.
Jadinya, umpan saya tidak ada yang menyambar hingga saya harus pulang dengan tangan hampa sampai jam 1 malam.