Malam itu, acara silaturrahim ke famili-famili sudah banyak yang tersambangi. Saya berniat untuk segera pulang ke rumah Prancak.
Rasa capek dan lemas sudah terasa betul di badan setelah seharian full silaturrahim. Acara selanjutnya, saya hendak pulang beristirahat di rumah. Menghilangkan capek yang saya rasakan.
Badan sudah panas. Kepala terasa sakit. Begitulah ketika saya kurang istirahat. Badan kecapean.
Ketika hendak pulang, istri manyun lantaran saya tidak menginap di rumahnya walau semalam.
Perselisihan kecilpun terjadi. Yang pada ahirnya saya tak jadi pulang ke rumah karena terlalu dingin.
Segera saya istirahat meski ada sanak famili yang datang bermain. Saya tak peduli.
Esok paginya, saya langsung pulang. Mengingat jadwal kerja saya sudah aktif kembali.
Libur hari raya Idul Fitrih hanya dua hari (14 & 15 Mei 2021). Agar tidak telat masuk kerja, saya segera balik.
Saya tidak mengecek perlengkapan kedaraan saya sebelum balik. Dengan terburu-buru, saya tancap gas menunggangi motor tunggangan saya.
Biasanya, perlengkapan kendaraan saya selalu siap di dalam bagasi motor.
Namun, hari itu saya lupa. Sampai di rumah, pikiran mulai curiga tentang surat motor dan uang saya. Perjalanan tetap berlanjut.
Samapai di desa Sobuk Timur, saya baru memeriksa surat-surat dan dompet saya di bagasi.
Ternyata, betul. Dompet dan surat-surat motor tertinggal di rumah istri.
Sekitika, saya terkejut. Bensin motor yang sudah pas-pasan membuat beban pikiran bertambah mengingat sisa perjalanan masih panjang, belum dilalui seperempatnya.
Saya bongkar-bongkar jok, berharap ada sisa uang yang tidak dimasukkan ke dompet yang tertinggal. Tapi, tidak ada uang sama sekali.
Satu-satunya uang tersisa ada di saku baju yang saya pakai: jumlahnya Rp. 10.000.
Apes. Berbagai keganjalan mendatangi pikiran. Uang sepuluh ribu itu kalau beli bensin hanya cukup sampai di tempat kediaman saya, Pamekasan. Itupun kalau tarikan gas normal tidak terlalu kencang. Kalau laju motor dengan kecepatan tinggi, kemungkinan bensil satu liter tidak cukup samapai tujuan.
Yang sangat menydihkan adalah, kondisi ban depan yang sudah mulus tidak ada giginya sama sekali. Ban haus itu biasanya tidak tahan dengan kondisi jalan terlalu panas. Bisa kempes.
Dan, kalau kempes, bagaimana cara menambalnya mengingat uang saya tertinggal.
Lebih menakutkan lagi, hari itu adalah hari pasaran di Keppo, Pamekasan.
Biasanya, di hari pasaran rentan sekali jalanan ada polisi. Bisa-bisa, speda saya yang diangkut Polisi kalau surat-suratnya tidak ada.
Dengan penuh kehati-hatian, laju motor saya tarik seperlunya saya. Mata tak henti-hentinya toleh kanan kiri berharap tidak ada polisi turun ke jalanan.
Perlahan tapi pasti, saya selamat sampai tujuan, tanpa hambatan. Bensi tersisa secuil di tanggki motor. Sukurlah saya bisa sampai dengan selamat. Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar