Kamis, 01 April 2021

Lempung, Pamekasn: strike lagi

Kamis pagi, 01 Maret 2021, saya menyisir pinggiran pantai bagian timur: tepatnya di sekitar Lempung, Pamekasan.



Bersama adik ipar, istrinya Romlah, saya mangkat pagi membawa pancing dan peralatannya.

Umpan saya dan ipar beli di Mundung, Pamekasan sebagai pemikat kakap agar mau menyantapnya.

Sampai di dekat penjual udang, saya berpapasan dengan sepupu dan teman kari (Imam dan Sipul Arizona). Ia hendak mancing juga ke arah timur. Cuma beda tempat dengan saya.

Di pemancingan, saya hanya bertahan setengah hari. Hasilnya lumayan: kakap 5 dan payus 2.

Itu sebuah pengalaman yang cukup baik untuk menghilangkan beban pikiran.

Duhur berkumandang, saya pergi pulang. Hujan deras yang mengguyur membuat saya segera pulang. Dari pemancingan sampai rumah hujan lebat mengguyuri segala tubuh.

Sabtu, 27 Februari 2021

Stiger, Pamekasan, Nihil

Sekitar pertengahan bulan Februari 2021, saya beli mata kail via online di daerah Gersik, Jawa Timur. Mereknya Gamaru Chinu size 6.



Waktu saya lihat, gambar tampilannya menarik dengan warna hitam mengkilap. Kail itu saya beli seharga Rp. 12.000/kotak. Dalam satu kotak berisi 100 pcs.

Lalu, kail itu saya pakai mancing pada hari kamis 25 Februari 2021 ke Stiger, Pademawu, Pamekasan.

Dari pagi sudah berulang kali mencoba memancing. Namun, hasilnya tak ada sambaran. Hingga saya dan teman-teman harus rela berlari sekencang mungkin untuk menghindari hujan yang datang secara tiba-tiba.

Hari itu, air laut mulai pasang sekitar jam 9 pagi. Kalau saja hembusan angin saat itu tidak menderu hingga membuat permukaan air muara bergetaran, kemungkinan di antara saya dan teman ada yang strike.

Tapi, nasib kurang berpihak. Ikan tak ada yang menyambar umpan. Yang ada hanya kail tersangkut hingga patah.

Saya heran. Masa iya kail yang masih baru bisa pata lantaran tersangkut jaring. Biasanya, senarnya yang putus.

Dari situ, saya mulai ingin mencari mata kail lain yang terbuat dari material stainless. Siapa tahu lebih awet dan aman dari korosi.

Sabtu, 20 Februari 2021

dari bekas menjadi hal baru

Pada sekitar 28 Januari 2021, sorang teman datang pada saya. Dia memberitahukan bahwa sandalnya putus saat berwudhu' di kamar mandi.Dari bekas jadi hal baru.



Pada sekitar 28 Januari 2021, sorang teman datang pada saya. Dia memberitahukan bahwa sandalnya putus saat berwudhu' di kamar mandi.

Selesai memberitahukan, teman itu mengutarakan keinginannya untuk pinjam sandal karena hendak menghadiri undangan.

Atas dasar kasihan dan kemanusiaan, saya pun memberukan pinjaman sandal yang layak pakai untuk pergi ke acara dimaksud.

Setelah saya berikan pada teman tersebut, saya menanyakan, apakah sandal itu masih diperlukan atau sudah tidak diharapkan lagi.

Lalu, teman tersebut sudah tidak mengharapkan sandal itu lagi. Maka, sandal itu saya ambil agar tidak merusak dan mengotori halaman kamar mandi.

Selesai diamankan, sejenak saya berpikir, mau diapakan sandal tersebut. Dibuangkah, dibiarkankah, dibakarkah? Atau kah kah yang lain?

Jika dibuang, maka kemungkinannya, jumlah sampah yang berasal dari sandal bekas akan bertambah di negeri ini. Buktinya, setiap kali saya jalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, banyak berkeliaran sandal bekas mengapung dan berserakan di pinggiran pantainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah yang tercipta dari sandal bekas, sandal teman itu saya ambil dan saya bikin aransemin ulang yang pada akhirnya berubah jadi pelampung. Dengan begitu, teman-teman yang suka mancing bisa menggunakannya sebagai pelampung pancing.

Sehingga, sandal bekas milik teman tidak terbuang begitu saja.

Selesai memberitahukan, teman itu mengutarakan keinginannya untuk pinjam sandal karena hendak menghadiri undangan.

Atas dasar kasihan dan kemanusiaan, saya pun memberukan pinjaman sandal yang layak pakai untuk pergi ke acara dimaksud.

Setelah saya berikan pada teman tersebut, saya menanyakan, apakah sandal itu masih diperlukan atau sudah tidak diharapkan lagi.

Lalu, teman tersebut sudah tidak mengharapkan sandal itu lagi. Maka, sandal itu saya ambil agar tidak merusak dan mengotori halaman kamar mandi.

Selesai diamankan, sejenak saya berpikir, mau diapakan sandal tersebut. Dibuangkah, dibiarkankah, dibakarkah? Atau kah kah yang lain?

Jika dibuang, maka kemungkinannya, jumlah sampah yang berasal dari sandal bekas akan bertambah di negeri ini. Buktinya, setiap kali saya jalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, banyak berkeliaran sandal bekas mengapung dan berserakan di pinggiran pantainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah yang tercipta dari sandal bekas, sandal teman itu saya ambil dan saya bikin aransemin ulang yang pada akhirnya berubah jadi pelampung. Dengan begitu, teman-teman yang suka mancing bisa menggunakannya sebagai pelampung pancing.

Sehingga, sandal bekas milik teman tidak terbuang begitu saja.

Mangunan mantap


Sabtu pagi (20-02-2021), saya jalan-jalan ke daerah Mangunan, Pamekasan. Rencana awal mau berangkat bertiga. Tetapi, berhubung masih ada yang minta dikerokin, maka saya putuskan untuk berangkat belakangan menyusul dua teman yang sudah start duluan.

Selesai mengerokin keluarga, saya berangkat sendirian mengendarai kuda besi buatan Jepang keluaran 2013 itu dengan kecepatan sedang.

Udara pagi saat itu terasa begitu dingin. Sehingga, kalau dipaksakan kencang, efeknya bisa masuk angin dan hal itu kurang baik. Bair pelan asal selamat saja.

Samapi di pinggir sungai, saya mas lihat kendaraan teman sudah terparkir rapi. Saya senang melihatnya. Karena kalau ada sepedanya, orangnya pasti tidak jauh di sekitar itu.

Cuma, yang membuat saya bingung, bagaimana cara menyeberangi sungai di hadapan saya. Perahunya terparkir sebanyak 6 buah. Supirnya tidak ada.

Orang bilang, kalau kesingan bisa-bisa ketinggalan. Masa iya saya harus menunggu supir perahu setengah hari? Tak mungkin lah.

Saya tidak punya kemungkinan lagi untuk menyerangi sungai itu. Nahkodanya sudah pulang.

Dari pada menunggu sesuatu yang tidak jelas, lebih baik putar balik saja. Mencari spot terdekat yang ikannya juga besar-besar dan banyak.

Lalu, saya putar sepeda dan segera menuju ke muara yang ada pintu masuk airnya: muara mangunan.

Syukur Alhamdulillah. Di muara itu saya dapat tiga ekor ikan: kakap merah, tompel dan satunya lagi saya tidak tau namanya.

Jumat, 08 Januari 2021

Sehari bersama si kuda besi

Januair 2021 merupakan ulang tahun ke-7 si keda besi buatan Jepang tunggangan saya.

 


Setiap awal tahun, saya setia membayar pajak kendaraan demi kenyamanan dan ke tenangan dalam berkendara.


Tadi pagi, sengggang kerja saya digunakan secara penuh untuk melunasi kewajiban saya pada negara untuk membayar pajak kendaraan.


Sebenarnya, saya ingin membayarnya pada 2 Januari 2021 empat hari yang lalu. Tetapi, waktu telfon penjaga Bank Jatim seraya tanya buka atau tutup, ternyata, ia menjawab Bank Jatim sedang tutup karena libur tahun baru.


Sehingga, saya menunda pembayarannya pada tadi pagi, selasa, 05 Januari 2021.


Berangkat pagi-pagi dengan harapan agar dapat antrian cepat. Saya berangkat sekitar jam 05:30 WIB. Sampai di tempat jam menunjukkan jam 06:30 WIB.


Dalam hati berkeyakinan bahwa antrian yang saya dapat pasti masuk urutan 3 besar. Saya pikir dengan dapat antrian 3 besar karena KTP tidak ketemu saat dicari.


Sehingga, saya tetap berangkat meski tanpa bawa kartu identitas kepemilikan.


Di Bank Jatim, saya sampai duluan. Lalu, seorang perempuan datang dengan kepentingan yang sama: bayar pajak Motor.


Orang ketiga, yang datang Malah salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Al-forqon.


Lama menunggu membuat hati dan perasaan gelisah. Sambil lalu, saya nelfon penjaganya seraya menanyakan jam berapa Bank buka.


Dari panggilan telfon itu, penjaganya mengabarkan bahwa Bank akan buka pada jam 08:00 WIB.


Dengan begitu, saya harus rela bersabar menunggu Bank buka selama 90 menit atau satu setengah jam. Mirip dengan waktu standart dalam pertandingan sepak bola.


Setelah Bank buka, ternyata, saya masih harus menunggu lagi sampai jam 10 lantaran dari hari senin 04 Januari 2021link sedang trouble dan hari selasa pagi 05 Januari 2021 masih trouble lagi. 


Di hari senin sebelumnya, ada bannyak berkas pajal kendaraan yang sudah selesai diproses tetapi belum sempat diparani oleh pemiliknya.


Berkas-berkas itu baru diparani pada hari selasa keesokan harinya. Dari kerumunan banyak orang tersebut, saya dan tiga orang pertama yang datang duluan harus mengalah menunggu di luar. Hal itu membuat perasaan saya cemburu.


Cemburu dalam artian, yang datang duluan kenapa harus dipanggil masul jam 10.


Maklum, saya tidak tahu bahwa banyak berkas yang tidak selesai sehari sebelumnya.


Usai bayar pajak, saya beralih ke tongkrongan yang lain: bengkel motor.


Di tempat kedua ini, saya harus mengganti Gear motor karena gigi gear belakang sudah hampir ompong dan saat berjalan timbul bunyak berisik, kretek-kretek.


Maka, agar kendaraan normal lagi saat berjalan, gear saya ganti satu set. Setelah diganti, kendaraan kembali energik lagi.


Alhamdulillah 'Alaa kulli hall.

Rabu, 01 Januari 2020

Senin Siang

Senin siang, sekitar jam 13.00 WIB, badan saya mulai kurang bertenaga. Badan terasa capek setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang lumayan berat. Biasanya, pekerjaan itu dikerjakan oleh dua orang: saya dan teman sejawat. Tapi, saat itu teman yang biasa masuk dengan saya berhalangan. Lalu diganti dengan karyawan lainnya. Perut saya sudah terasa lapar. Mau pulang marani nasi badan tidak bisa karena sudah capek. Apalagi suasana sedang gerimis. Langit sudah mendung sedari pagi hingga siang tak kunjung hilang. Terus jalanan juga becek, bahkan sebagian ada air menggenangi.
Sebenarnya saya ingin sekali pulang untu makan. Tapi kalau harus jalan kaki rasanya malas sekali. Jarak rumah tidak begitu jauh. Mungkin sekitar 100 Meter dari tempat kerja. Kalau saja tidak sedang capek enak jalan kaki sekalian melancarkan sirkulasi darah.
Laparnya saya ini sudah 3 jam sebelumnya terasa. Cuma saya biarkan saja. Saya melatih diri agar tidak rewel. Agar tidak kalah dengan nafsu makan. Sambil lalu belajar merasakan bagaimana sulitnya orang tua kita mencari sesuap nasi setiap harinya.
Ketika perut begitu perihmenahan lapar, saya mengisinya dengan jajanan 500-san lalu minum segelas air. Agar nyeri di perut sedikit terobati. Begitu seterusnya.
Karena makan terlalu dini membuat saya mudah ngantuk. Pikiran kosong, mata terasa berat. Kalau hal itu dibiarkan, pejerjaan terbengkalai.
Maka sebagai alternatifnya, saya biarkan perut dalam keadaan lapar. Hanya dengan cara seperti inilaha kantuk tidak mudah datang. Karena pengalaman yang pernah saya lewati, biasanya kantuk datang di saat perut dalam keadaan kenyang. Pekiran menjadi landai. Tatapan menjadi layu. Saat seperti itulah kantuk datang hingga tak bisa di hindari lagi.
Hanya satu cara yang bisa menangkis kantuk, yaitu dengan cara membiarkan perut dalam keadaan kosong. Kantuk kalah sama lapar. Lapar kalau dibiarkan akan terasa perih di perut. Semakin ditahan semakin perih.
Cara ini saya temukan berdasarkan pengalaman sendiri yang pernah saya alami. Adapun cara yang lain seperti mongoleskan balsem ke alis. Tapi tidak berhasil. Kantuk semakin tak bisa dihindari. Bahkan dalam posisi alis panaspun kantuk tetap menyerang.
Pamekasan, 16-12-2019

Minggu, 01 Desember 2019

Resmi diformat

     Malam ini, senin 01/12/2019, jam 21:00 WIB, memori hp-ku resmi diformat. Hal itu dilakukan karena memori sering ngadat. Kadang terbaca di galeri dan kadang pula tidak terdeteksi. Kemungkinan file dalam memori itu terlalu banyak dan kemungkinan yang lain bisa jadi ada file yang terkenak virus. Sehingga memori sering eror.
     Dalam memori itu, terdapat banyak file, musik, vidio dan gambar tersimpan, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun tersimpan. Tetapi karena memori tidak terdeteksi, pada akhirnya aku format. Semua kenangan itu hilang tak bersisa. Aku hanya bisa membiarkan saja senua menghilang. Biar diganti dengan momen yang baru.

 Semalam 07-08-2021, saya pergi malam mingguan dengan memancing. Tempatnya sama seperti hari-hari sebelumnya: Lembung, Pamekasan. Selesai sh...