Aku rindu pada rumahku. Rumah itu adalah rumah warisan dari kakek tercinta. Dulu, kakek pernah bilang kalau ia ingin renofasi rumahnya buatku biar enak tinggal menempatinya. Setelah selesai merenofasi rumahnya, kakek lalu bilang bahwa ia hanya ingin menumpang tinggal sementara di rumahnya itu.
Mendengar perkataan kakek tersebut, seketika hatiku sedih dan pilu. Semua anggota badanku merinding merasa ketakutan yang teramat dalam. Batinku bertanya-tanya kenapa kakek berbicara seperti itu. Setahu aku, kakek tak pernah bercanda sampai kelewat batas. Lumrahnya bercanda ya bercanda sekedarnya saja. Tidak sampai membuat hati terasa akan kehilangan untuk selamanya.
Sejenak, aku terdiam membisu. Berkecamu dengan seribu ketidak mengertian hati atas perkataan kakek yang dilontarkan dengan sangat gamlang serasa tidak punya beban sedikitpun. Dua nenek hanya diam santai saja. Tidak mengerti dan menangkap pesan di balik perkataan kakek tersebut.
Aku coba melawan perkataan kakek itu agar tidak membekas di dalam pikiranku. “Kek, rumah ini jangan hanya ditinggali sementara. Rumah ini adalah rumah kakek sendiri. Jadi, sebaiknya kita tempati bersama rame-rame”. Saranku pada kakek.
Selesai aku bicara pada kakek, ia langsung menambahkan perkataannya. “saya sudah tua, Nak. Biasanya, orang yang sudah tua hidupnya tidak akan lama lagi”. Ungkap kakek dengan jelas sekali.
Lagi-lagi, aku sedih dan pilu yang teramat dalam. Perih rasanya hati ini mendengar perkataan kakek yang kedua ini. Dalam diamku, hati berdoa, berharap kakek bisa sehat. Sembuh dari penyakit Asma dan tekanan darah tinggi. Walau hanya bisa mengusir ayam yang masuk rumah, aku tetap berharap kakek bisa hadir bersama dalam duania ini. Aku tidak mengharap kakek harus bekerja lembur seperti di waktu masa mudanya. Cukup hanya bisa shalat lima waktu saja aku sudah senang luar biasa.
Pamekasan, 05 Mei 2019 M/1 Ramadhan 1440 H