Kamis, 26 Agustus 2021

 Semalam 07-08-2021, saya pergi malam mingguan dengan memancing. Tempatnya sama seperti hari-hari sebelumnya: Lembung, Pamekasan.


Selesai shalat Maghrib, saya berangkat ke tempat penjual udang di Bunder, Pamekasan.


Tempat itu merupakan tempat penjual udang yang baru muncul. Saya ingin coba aja beli di tempat yang baru itu.


Sampai di tempat, orangnya tidak ada yang ditandai dengan pintu tertutup.


Salah satu teman saya ada yang mengintip dari celah pintu, melihat bahwa stok udang masih banyak. Cuma tidak ada orangnya.


Saya mengajak pindah ke penjula udang lainbyang letaknya ada di Mundung, Pamekasan. Biasanya, di Mondung itu selalu ada stok.


Dalam perjalanan menuju Mondong itu, tiba-tiba hati saya degdekan, sial tak menentu tanpa sebab yang pasti.


Perasaan itu terus berlanjut hingga samapi di penjual udang tetsebut.


Salah satu teman saya langsung memanggil penjualnya seraya menanyaka stok udangnya ada apa tidak. Ternyata ada tapi tinggal udang putih.


Deg. Seketika hati saya tambah sial. Pengalaman saya, udang putih itu cepat mati dan saya tidak pernah dapat kakap dengan menggunakan umpan udang putih.


Saya berisaha menangkis keraguan itu dengan kalimat "yang ngasi rejeki itu Gusti Allah SWA. Bukan udangnya". Kata hati saya. Tapi tetap saja.


Sampai dipemancingan, senter orang yang memanen tambaknya semakin memperparah kegetiran hati saya.


Bagai mana tidak? Orang itu sembarang menyenter wajah dan tempat pemancingan saya.

Jadinya, umpan saya tidak ada yang menyambar hingga saya harus pulang dengan tangan hampa sampai jam 1 malam.

Sepi sambaran

 Rabu pagi 25-08-2021, saya pergi mancing ke Lembung, Pamekasan. Kesempatan itu hanya tercipta antara saya dan sipu, teman saya.


Satu teman lagi tidak ikutan mancing karenah entah kenapa alasannya. Dia adalah Imam, sepupu saya.


Di malam selasa, 24-08-2021, kesepakatan mancing tercipta. Agar agenda mamcing tidak gagal, maka malam itu pula penjual ufang yang biasa teman-teman beli ditelfon; menanyakan stok udang yang ada.


Kenapa ditanyakan terlebih dahulu, kenapa tidak langsung datangi dan membeli? Karena, malam itu purnama hampir bulat sempurna.


Biasanya, di malam purnama itu, udang hampir dipastikan tidak ada. Walaupun ada, sedikit sekali.


Setelah dihubungi via WA, maka penjual udang mengabarkan bahwa stok udang masih ada.


Lalu, Num Sipul memesannya saat itu pula guna diparani keesokan paginya.


Pada jam setengah enam lewat lima menit, Num Sipul sampai di rumah. Lalu, berangkatlah berdua ke tempat penjual udang yang semalam sudah dipesan. Lokasinya ada di Mondung, Pamekasan.


Saya dan Num Sipul membawa motor masing masing karena dia mau pulang duluan di kala sudah Duhur.


Sedang saya rencananya mau full day seharian kalau banyak sambaran.


Di Mondung, saya dan Num Sipul langsung beli 2 ons seharga 20.000, 10.000/ons. Terus segera meluncur ke tempat pemancingan.


Tanpa pakai lama, umpan langsung diuncal. Berbagai percobaan pun di gunakan untuk membujuk barramondi makan.


Tapi, hasilnya nihil. Ikan target sepertinya tidak tertarik pada umpan yang kita lempar.


Yang ada hanya sambaran ikan kecil (Rekrek) yang bisanya hanya menghancurkan dan membunuh udang hidup yang kita jadikan umpan.


Menjelang Duhur, Mino yang digunakan Num Sipul disambar ikan besar. Tapi sayang sekali, benangnya tak mampu menarik ikan kepermukaan karena putus.


Sedang saya hanya berhasil strike ikan kerong2 satu ekor. Dua kali strike sembilang tapi lepas.


Usai Adzan duhur berkumandang, Num Sipul pulang duluan karena punya agenda mau beli kursi bersama orang lain.


Jadi, pemancingan tinggal saya seorang. Saya tetap bertahan dan sabar walau udang yang dijadikan umpan sudah mati semua. Aerotor sudah kurang bertenaga. Batreynya low.


Namun, sebulum saya hengkang dari pemaancingan, umpan udang mati yang saya pakai disambar payus. Jadilah hasil pancingan saya dua ekor. Lalu, saya pulang.

Selasa, 18 Mei 2021

Sabtu, 15 Mei 2021

Malam itu, acara silaturrahim ke famili-famili sudah banyak yang tersambangi. Saya berniat untuk segera pulang ke rumah Prancak.

Rasa capek dan lemas sudah terasa betul di badan setelah seharian full silaturrahim. Acara selanjutnya, saya hendak pulang beristirahat di rumah. Menghilangkan capek yang saya rasakan.

Badan sudah panas. Kepala terasa sakit. Begitulah ketika saya kurang istirahat. Badan kecapean.

Ketika hendak pulang, istri manyun lantaran saya tidak menginap di rumahnya walau semalam.

Perselisihan kecilpun terjadi. Yang pada ahirnya saya tak jadi pulang ke rumah karena terlalu dingin.

Segera saya istirahat meski ada sanak famili yang datang bermain. Saya tak peduli.

Esok paginya, saya langsung pulang. Mengingat jadwal kerja saya sudah aktif kembali.

Libur hari raya Idul Fitrih hanya dua hari (14 & 15 Mei 2021). Agar tidak telat masuk kerja, saya segera balik.

Saya tidak mengecek perlengkapan kedaraan saya sebelum balik. Dengan terburu-buru, saya tancap gas menunggangi motor tunggangan saya.

Biasanya, perlengkapan kendaraan saya selalu siap di dalam bagasi motor.

Namun, hari itu saya lupa. Sampai di rumah, pikiran mulai curiga tentang surat motor dan uang saya. Perjalanan tetap berlanjut.

Samapai di desa Sobuk Timur, saya baru memeriksa surat-surat dan dompet saya di bagasi.

Ternyata, betul. Dompet dan surat-surat motor tertinggal di rumah istri.

Sekitika, saya terkejut. Bensin motor yang sudah pas-pasan membuat beban pikiran bertambah mengingat sisa perjalanan masih panjang, belum dilalui seperempatnya.

Saya bongkar-bongkar jok, berharap ada sisa uang yang tidak dimasukkan ke dompet yang tertinggal. Tapi, tidak ada uang sama sekali.

Satu-satunya uang tersisa ada di saku baju yang saya pakai: jumlahnya Rp. 10.000.

Apes. Berbagai keganjalan mendatangi pikiran. Uang sepuluh ribu itu kalau beli bensin hanya cukup sampai di tempat kediaman saya, Pamekasan. Itupun kalau tarikan gas normal tidak terlalu kencang. Kalau laju motor dengan kecepatan tinggi, kemungkinan bensil satu liter tidak cukup samapai tujuan.

Yang sangat menydihkan adalah, kondisi ban depan yang sudah mulus tidak ada giginya sama sekali. Ban haus itu biasanya tidak tahan dengan kondisi jalan terlalu panas. Bisa kempes.

Dan, kalau kempes, bagaimana cara menambalnya mengingat uang saya tertinggal.

Lebih menakutkan lagi, hari itu adalah hari pasaran di Keppo, Pamekasan.

Biasanya, di hari pasaran rentan sekali jalanan ada polisi. Bisa-bisa, speda saya yang diangkut Polisi kalau surat-suratnya tidak ada.

Dengan penuh kehati-hatian, laju motor saya tarik seperlunya saya. Mata tak henti-hentinya toleh kanan kiri berharap tidak ada polisi turun ke jalanan.

Perlahan tapi pasti, saya selamat sampai tujuan, tanpa hambatan. Bensi tersisa secuil di tanggki motor. Sukurlah saya bisa sampai dengan selamat. Alhamdulillah.

Kamis, 01 April 2021

Lempung, Pamekasn: strike lagi

Kamis pagi, 01 Maret 2021, saya menyisir pinggiran pantai bagian timur: tepatnya di sekitar Lempung, Pamekasan.



Bersama adik ipar, istrinya Romlah, saya mangkat pagi membawa pancing dan peralatannya.

Umpan saya dan ipar beli di Mundung, Pamekasan sebagai pemikat kakap agar mau menyantapnya.

Sampai di dekat penjual udang, saya berpapasan dengan sepupu dan teman kari (Imam dan Sipul Arizona). Ia hendak mancing juga ke arah timur. Cuma beda tempat dengan saya.

Di pemancingan, saya hanya bertahan setengah hari. Hasilnya lumayan: kakap 5 dan payus 2.

Itu sebuah pengalaman yang cukup baik untuk menghilangkan beban pikiran.

Duhur berkumandang, saya pergi pulang. Hujan deras yang mengguyur membuat saya segera pulang. Dari pemancingan sampai rumah hujan lebat mengguyuri segala tubuh.

Sabtu, 27 Februari 2021

Stiger, Pamekasan, Nihil

Sekitar pertengahan bulan Februari 2021, saya beli mata kail via online di daerah Gersik, Jawa Timur. Mereknya Gamaru Chinu size 6.



Waktu saya lihat, gambar tampilannya menarik dengan warna hitam mengkilap. Kail itu saya beli seharga Rp. 12.000/kotak. Dalam satu kotak berisi 100 pcs.

Lalu, kail itu saya pakai mancing pada hari kamis 25 Februari 2021 ke Stiger, Pademawu, Pamekasan.

Dari pagi sudah berulang kali mencoba memancing. Namun, hasilnya tak ada sambaran. Hingga saya dan teman-teman harus rela berlari sekencang mungkin untuk menghindari hujan yang datang secara tiba-tiba.

Hari itu, air laut mulai pasang sekitar jam 9 pagi. Kalau saja hembusan angin saat itu tidak menderu hingga membuat permukaan air muara bergetaran, kemungkinan di antara saya dan teman ada yang strike.

Tapi, nasib kurang berpihak. Ikan tak ada yang menyambar umpan. Yang ada hanya kail tersangkut hingga patah.

Saya heran. Masa iya kail yang masih baru bisa pata lantaran tersangkut jaring. Biasanya, senarnya yang putus.

Dari situ, saya mulai ingin mencari mata kail lain yang terbuat dari material stainless. Siapa tahu lebih awet dan aman dari korosi.

Sabtu, 20 Februari 2021

dari bekas menjadi hal baru

Pada sekitar 28 Januari 2021, sorang teman datang pada saya. Dia memberitahukan bahwa sandalnya putus saat berwudhu' di kamar mandi.Dari bekas jadi hal baru.



Pada sekitar 28 Januari 2021, sorang teman datang pada saya. Dia memberitahukan bahwa sandalnya putus saat berwudhu' di kamar mandi.

Selesai memberitahukan, teman itu mengutarakan keinginannya untuk pinjam sandal karena hendak menghadiri undangan.

Atas dasar kasihan dan kemanusiaan, saya pun memberukan pinjaman sandal yang layak pakai untuk pergi ke acara dimaksud.

Setelah saya berikan pada teman tersebut, saya menanyakan, apakah sandal itu masih diperlukan atau sudah tidak diharapkan lagi.

Lalu, teman tersebut sudah tidak mengharapkan sandal itu lagi. Maka, sandal itu saya ambil agar tidak merusak dan mengotori halaman kamar mandi.

Selesai diamankan, sejenak saya berpikir, mau diapakan sandal tersebut. Dibuangkah, dibiarkankah, dibakarkah? Atau kah kah yang lain?

Jika dibuang, maka kemungkinannya, jumlah sampah yang berasal dari sandal bekas akan bertambah di negeri ini. Buktinya, setiap kali saya jalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, banyak berkeliaran sandal bekas mengapung dan berserakan di pinggiran pantainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah yang tercipta dari sandal bekas, sandal teman itu saya ambil dan saya bikin aransemin ulang yang pada akhirnya berubah jadi pelampung. Dengan begitu, teman-teman yang suka mancing bisa menggunakannya sebagai pelampung pancing.

Sehingga, sandal bekas milik teman tidak terbuang begitu saja.

Selesai memberitahukan, teman itu mengutarakan keinginannya untuk pinjam sandal karena hendak menghadiri undangan.

Atas dasar kasihan dan kemanusiaan, saya pun memberukan pinjaman sandal yang layak pakai untuk pergi ke acara dimaksud.

Setelah saya berikan pada teman tersebut, saya menanyakan, apakah sandal itu masih diperlukan atau sudah tidak diharapkan lagi.

Lalu, teman tersebut sudah tidak mengharapkan sandal itu lagi. Maka, sandal itu saya ambil agar tidak merusak dan mengotori halaman kamar mandi.

Selesai diamankan, sejenak saya berpikir, mau diapakan sandal tersebut. Dibuangkah, dibiarkankah, dibakarkah? Atau kah kah yang lain?

Jika dibuang, maka kemungkinannya, jumlah sampah yang berasal dari sandal bekas akan bertambah di negeri ini. Buktinya, setiap kali saya jalan-jalan menyusuri pinggiran pantai, banyak berkeliaran sandal bekas mengapung dan berserakan di pinggiran pantainya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah yang tercipta dari sandal bekas, sandal teman itu saya ambil dan saya bikin aransemin ulang yang pada akhirnya berubah jadi pelampung. Dengan begitu, teman-teman yang suka mancing bisa menggunakannya sebagai pelampung pancing.

Sehingga, sandal bekas milik teman tidak terbuang begitu saja.

Mangunan mantap


Sabtu pagi (20-02-2021), saya jalan-jalan ke daerah Mangunan, Pamekasan. Rencana awal mau berangkat bertiga. Tetapi, berhubung masih ada yang minta dikerokin, maka saya putuskan untuk berangkat belakangan menyusul dua teman yang sudah start duluan.

Selesai mengerokin keluarga, saya berangkat sendirian mengendarai kuda besi buatan Jepang keluaran 2013 itu dengan kecepatan sedang.

Udara pagi saat itu terasa begitu dingin. Sehingga, kalau dipaksakan kencang, efeknya bisa masuk angin dan hal itu kurang baik. Bair pelan asal selamat saja.

Samapi di pinggir sungai, saya mas lihat kendaraan teman sudah terparkir rapi. Saya senang melihatnya. Karena kalau ada sepedanya, orangnya pasti tidak jauh di sekitar itu.

Cuma, yang membuat saya bingung, bagaimana cara menyeberangi sungai di hadapan saya. Perahunya terparkir sebanyak 6 buah. Supirnya tidak ada.

Orang bilang, kalau kesingan bisa-bisa ketinggalan. Masa iya saya harus menunggu supir perahu setengah hari? Tak mungkin lah.

Saya tidak punya kemungkinan lagi untuk menyerangi sungai itu. Nahkodanya sudah pulang.

Dari pada menunggu sesuatu yang tidak jelas, lebih baik putar balik saja. Mencari spot terdekat yang ikannya juga besar-besar dan banyak.

Lalu, saya putar sepeda dan segera menuju ke muara yang ada pintu masuk airnya: muara mangunan.

Syukur Alhamdulillah. Di muara itu saya dapat tiga ekor ikan: kakap merah, tompel dan satunya lagi saya tidak tau namanya.

Jumat, 08 Januari 2021

Sehari bersama si kuda besi

Januair 2021 merupakan ulang tahun ke-7 si keda besi buatan Jepang tunggangan saya.

 


Setiap awal tahun, saya setia membayar pajak kendaraan demi kenyamanan dan ke tenangan dalam berkendara.


Tadi pagi, sengggang kerja saya digunakan secara penuh untuk melunasi kewajiban saya pada negara untuk membayar pajak kendaraan.


Sebenarnya, saya ingin membayarnya pada 2 Januari 2021 empat hari yang lalu. Tetapi, waktu telfon penjaga Bank Jatim seraya tanya buka atau tutup, ternyata, ia menjawab Bank Jatim sedang tutup karena libur tahun baru.


Sehingga, saya menunda pembayarannya pada tadi pagi, selasa, 05 Januari 2021.


Berangkat pagi-pagi dengan harapan agar dapat antrian cepat. Saya berangkat sekitar jam 05:30 WIB. Sampai di tempat jam menunjukkan jam 06:30 WIB.


Dalam hati berkeyakinan bahwa antrian yang saya dapat pasti masuk urutan 3 besar. Saya pikir dengan dapat antrian 3 besar karena KTP tidak ketemu saat dicari.


Sehingga, saya tetap berangkat meski tanpa bawa kartu identitas kepemilikan.


Di Bank Jatim, saya sampai duluan. Lalu, seorang perempuan datang dengan kepentingan yang sama: bayar pajak Motor.


Orang ketiga, yang datang Malah salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Al-forqon.


Lama menunggu membuat hati dan perasaan gelisah. Sambil lalu, saya nelfon penjaganya seraya menanyakan jam berapa Bank buka.


Dari panggilan telfon itu, penjaganya mengabarkan bahwa Bank akan buka pada jam 08:00 WIB.


Dengan begitu, saya harus rela bersabar menunggu Bank buka selama 90 menit atau satu setengah jam. Mirip dengan waktu standart dalam pertandingan sepak bola.


Setelah Bank buka, ternyata, saya masih harus menunggu lagi sampai jam 10 lantaran dari hari senin 04 Januari 2021link sedang trouble dan hari selasa pagi 05 Januari 2021 masih trouble lagi. 


Di hari senin sebelumnya, ada bannyak berkas pajal kendaraan yang sudah selesai diproses tetapi belum sempat diparani oleh pemiliknya.


Berkas-berkas itu baru diparani pada hari selasa keesokan harinya. Dari kerumunan banyak orang tersebut, saya dan tiga orang pertama yang datang duluan harus mengalah menunggu di luar. Hal itu membuat perasaan saya cemburu.


Cemburu dalam artian, yang datang duluan kenapa harus dipanggil masul jam 10.


Maklum, saya tidak tahu bahwa banyak berkas yang tidak selesai sehari sebelumnya.


Usai bayar pajak, saya beralih ke tongkrongan yang lain: bengkel motor.


Di tempat kedua ini, saya harus mengganti Gear motor karena gigi gear belakang sudah hampir ompong dan saat berjalan timbul bunyak berisik, kretek-kretek.


Maka, agar kendaraan normal lagi saat berjalan, gear saya ganti satu set. Setelah diganti, kendaraan kembali energik lagi.


Alhamdulillah 'Alaa kulli hall.

Rabu, 01 Januari 2020

Senin Siang

Senin siang, sekitar jam 13.00 WIB, badan saya mulai kurang bertenaga. Badan terasa capek setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang lumayan berat. Biasanya, pekerjaan itu dikerjakan oleh dua orang: saya dan teman sejawat. Tapi, saat itu teman yang biasa masuk dengan saya berhalangan. Lalu diganti dengan karyawan lainnya. Perut saya sudah terasa lapar. Mau pulang marani nasi badan tidak bisa karena sudah capek. Apalagi suasana sedang gerimis. Langit sudah mendung sedari pagi hingga siang tak kunjung hilang. Terus jalanan juga becek, bahkan sebagian ada air menggenangi.
Sebenarnya saya ingin sekali pulang untu makan. Tapi kalau harus jalan kaki rasanya malas sekali. Jarak rumah tidak begitu jauh. Mungkin sekitar 100 Meter dari tempat kerja. Kalau saja tidak sedang capek enak jalan kaki sekalian melancarkan sirkulasi darah.
Laparnya saya ini sudah 3 jam sebelumnya terasa. Cuma saya biarkan saja. Saya melatih diri agar tidak rewel. Agar tidak kalah dengan nafsu makan. Sambil lalu belajar merasakan bagaimana sulitnya orang tua kita mencari sesuap nasi setiap harinya.
Ketika perut begitu perihmenahan lapar, saya mengisinya dengan jajanan 500-san lalu minum segelas air. Agar nyeri di perut sedikit terobati. Begitu seterusnya.
Karena makan terlalu dini membuat saya mudah ngantuk. Pikiran kosong, mata terasa berat. Kalau hal itu dibiarkan, pejerjaan terbengkalai.
Maka sebagai alternatifnya, saya biarkan perut dalam keadaan lapar. Hanya dengan cara seperti inilaha kantuk tidak mudah datang. Karena pengalaman yang pernah saya lewati, biasanya kantuk datang di saat perut dalam keadaan kenyang. Pekiran menjadi landai. Tatapan menjadi layu. Saat seperti itulah kantuk datang hingga tak bisa di hindari lagi.
Hanya satu cara yang bisa menangkis kantuk, yaitu dengan cara membiarkan perut dalam keadaan kosong. Kantuk kalah sama lapar. Lapar kalau dibiarkan akan terasa perih di perut. Semakin ditahan semakin perih.
Cara ini saya temukan berdasarkan pengalaman sendiri yang pernah saya alami. Adapun cara yang lain seperti mongoleskan balsem ke alis. Tapi tidak berhasil. Kantuk semakin tak bisa dihindari. Bahkan dalam posisi alis panaspun kantuk tetap menyerang.
Pamekasan, 16-12-2019

Minggu, 01 Desember 2019

Resmi diformat

     Malam ini, senin 01/12/2019, jam 21:00 WIB, memori hp-ku resmi diformat. Hal itu dilakukan karena memori sering ngadat. Kadang terbaca di galeri dan kadang pula tidak terdeteksi. Kemungkinan file dalam memori itu terlalu banyak dan kemungkinan yang lain bisa jadi ada file yang terkenak virus. Sehingga memori sering eror.
     Dalam memori itu, terdapat banyak file, musik, vidio dan gambar tersimpan, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun tersimpan. Tetapi karena memori tidak terdeteksi, pada akhirnya aku format. Semua kenangan itu hilang tak bersisa. Aku hanya bisa membiarkan saja senua menghilang. Biar diganti dengan momen yang baru.

Sabtu, 30 November 2019

Gerah di malam hari

Kemarau panjang yang terjadi tahun 2019 ini membuat suasana terasa panas. Bukan hanya siang hari, malam hari pun suasana panas hingga membuat badan jadi gerah dan keringat mengucur.
Padahal, dalam ruangan sudah tersedia kipas dan AC. Semestinya dua benda itu sudah mampu kiranya untuk mengeringkan keringat di badan.
Tapi entah kenapa. Suasana tetap panas dan gerah. Sesekali saya mencari sesobek kardus untuk dikibaskan ke badan agar keringat segera kering. Tapi tetap saja tak ada hasil.
Rasanya, semakin hari bumi kita ini terasa semakin panas.

Minggu, 13 Oktober 2019

Air dalam kehidupan sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, orang pasti membutuhkan air. Baik buat kebutuhan minum, mandi, menanak dan semacamnya.

Minggu, 16 Juni 2019

Waktunya Menanam Tembakau

 
 Selasa pagi, 11 Juni 2019, saya berangkat pagi-pagi ke rumah Pak Rahmat di Keppo, pamekasan. Tujuan saya adalah mau membeli bibit tembakau sejumlah 7000 pohon. Bibit tembakau itu saya beli buat ditanam di sawah peninggalan Kakek di Tambiuh , Jampareng Laok, Campakah, Pasongsongan.
Bibit itu berasal dari orang tua saya yang dikasi ke Pak Rahmat untuk ditanamkan dan dirawatkan. Lalu setelah bibit tembakau tumbuh dan sampai masa tanam orang tua saya tinggal ngasi upah saja pada Pak Rahmat.
 



Sabtu, 25 Mei 2019

Galery

Pembukaan Tifo Ramadhan berlangsung di Auditorium SPORTIFO Pamekasan yang dikemas dengan buka bersama. 

Menggarap sawah saat malam hari agar tidak terlalu panas.


Acara Reunian om di sebelah barat rumah disertau sound system warna kuni. 


 Acara Reunian ini diwarnai dengan senyum dan tawa penuh bahagia.
 Penjaga sound system siaga selalu dalam bertugas demi kelancaran acara Reunian 15 Juni 2019.
MC berdiri menyambut teman-temannya. 

Wanita rambut panjang adalah penyanyi lokan yang tak kalah pengalaman dengan lainnya. 

Penyanyi sedang bersama pemain keyboard berpengalaman .

Jumat, 10 Mei 2019

Kakek

     Aku rindu pada rumahku. Rumah itu adalah rumah warisan dari kakek tercinta. Dulu, kakek pernah bilang kalau ia ingin renofasi rumahnya buatku biar enak tinggal menempatinya. Setelah selesai merenofasi rumahnya, kakek lalu bilang bahwa ia hanya ingin menumpang tinggal sementara di rumahnya itu.
     Mendengar perkataan kakek tersebut, seketika hatiku sedih dan pilu. Semua anggota badanku merinding merasa ketakutan yang teramat dalam. Batinku bertanya-tanya kenapa kakek berbicara seperti itu. Setahu aku, kakek tak pernah bercanda sampai kelewat batas. Lumrahnya bercanda ya bercanda sekedarnya saja. Tidak sampai membuat hati terasa akan kehilangan untuk selamanya.
     Sejenak, aku terdiam membisu. Berkecamu dengan seribu ketidak mengertian hati atas perkataan kakek yang dilontarkan dengan sangat gamlang serasa tidak punya beban sedikitpun. Dua nenek hanya diam santai saja. Tidak mengerti dan menangkap pesan di balik perkataan kakek tersebut.
     Aku coba melawan perkataan kakek itu agar tidak membekas di dalam pikiranku. “Kek, rumah ini jangan hanya ditinggali sementara. Rumah ini adalah rumah kakek sendiri. Jadi, sebaiknya kita tempati bersama rame-rame”. Saranku pada kakek.
Selesai aku bicara pada kakek, ia langsung menambahkan perkataannya. “saya sudah tua, Nak. Biasanya, orang yang sudah tua hidupnya tidak akan lama lagi”. Ungkap kakek dengan jelas sekali.
     Lagi-lagi, aku sedih dan pilu yang teramat dalam. Perih rasanya hati ini mendengar perkataan kakek yang kedua ini. Dalam diamku, hati berdoa, berharap kakek bisa sehat. Sembuh dari penyakit Asma dan tekanan darah tinggi. Walau hanya bisa mengusir ayam yang masuk rumah, aku tetap berharap kakek bisa hadir bersama dalam duania ini. Aku tidak mengharap kakek harus bekerja lembur seperti di waktu masa mudanya. Cukup hanya bisa shalat lima waktu saja aku sudah senang luar biasa.

Pamekasan, 05 Mei 2019 M/1 Ramadhan 1440 H

Sabtu, 04 Mei 2019

Rindu Rumah

     Aku rindu pada rumahku. Rumah yang dibangun di atas sebidang tanah yang cukup luas. Di atas tanah itu dibangun sebanyak empat bangunan; rumah, dapur, surau kuno dan kandang. Sisa dari empat bangunan itu masih cukum untuk membangun satu rumah lagi.
     Tanah yang di tempati rumah, surau, dapur dan kandang itu milik eayangku yang konon, menurut cerita orang sekitar, memiliki banyak sawah. Eangku itu bernama mulindra. Eang termasuk orang yang giat dalam bekerja. Pikirannya kreatif. Hal itu terbukti dengan pohon kelapa yang di tanam cukup banyak. Eang dulu pernah berkata pada tetangga dan ponaan-ponaannya bahwa siapa yang mampu menghitung pohon kelapanya dengan benar dan tepat akan dikasi hadiah sepasang sapi . Sungguh banyak sekali .
Wataknya keras dan tegas.

MULAMPA

     Beberapa tahun yang lalu , sebelum kakek jatuh sakit, ia pernah melihat kondisi rumahnya yang memprihatinkan. Rumah yang sudah bertahun-tahun dihuni kakek beserta dua nenek itu makin hari semakin menyedihkan. Kayu yang dipasang di atas beserta irisan pangkal bambu yang digunakan buat menahan genting sudah habis. Ada yang habis karena lapuk terkena air hujan terus menerus dan ada pula yang habis digrogoti rayap. Entah naik dari mana rayap-rayap. Cuma tau-tau sudah memakan kayu-kayu rumah di bagian atas.
     Kakek itu memiliki dua istri yang sama-sama dihadapi. Bersama istri pertanya, kakek ingin memiliki momongan. Dua kali berusaha dan dua kali gagal. Ketika anak kakek sudah mulai berumur dan sudah menyenangkan hati, takdir malah berkata lain. Kedua anaknya meninggal dunia dalam keadaan sakit. Tak sampai di situ, perjuangan terus dilanjutkan untuk mendapat momongan. Hingga pada akhirnya ketahuanlah bahwa istri pertamanya itu tak bisa memberikan keturunan. Walaupun bisa pada akhir akan mati juga. Tak bisa jadi teman dalam hidupnya.

Senin, 29 April 2019

Pulang kampung: hampir gagal karena hujan

Hari itu, agenda saya mau pulang kampung saat sore tiba. Libur kerja saat itu saya gunakan untuk berkumpul bersama keluarga di kampung. Menikmati kebersamaan baik dalam keadaan susah maupun senang. Yang penting bisa menilkmati kehangatan saat berkumpul. Bersama segelas kopi hangat, jajanan ringan dan sebatang rokok yang mengepul bersama cerita yang dikeluarkn secara bergantian. Ada yang menjadi pendengar, ada yang aktif dalam cerita yang dikisahkan di surau bambu itu.
Tapi, agenda saya itu hampir gagal lantaran hujan yang terjadi hari itu lumayan deras. Hujan yang terjadi dari 12:00 WIB hingga 13:00 WIB membuat harapan saya pudar. Bagaimana tidak pudar? Jarak tempuh dari kota ke desa lumayan jauh, mungkin sekitar satu setengah jam sampai jika mengendarai motor dengan kecepatan 60 km/jam. Apalagi dibarengi hujan. Jalanan basah semua. Belum lagi genangan air di jalanan yang membahayakan pengendara motor yang lain. Jalanan berubah licin. Jadi, mau tak mau laju kendaraan harus benar-benar terkendali sebaik mungkin.

Minggu, 28 April 2019

Abai terhadap aktifitas teman sendiri

Tak pernah ikut campur pada aktifitas orang lain tapi mengharap dapat bagian dari aktifitas tersebut adalah termasuk prilaku yang kurang menyenangkan. Semestinya, sebagai orang yang sudah berteman dekat dalam kesehariannya tentu harus saling tolong menolong dalam hal yang positif.
Sebagai makhluk sosial, kita dituntut agar saling tolong-menolong dengan yang lain. Karena bagaimanapun orang tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Ia pasti butuh pada orang lain dalam menjalani kehidupan sehari-harinya .
Kita tidak bisa memungkiri bahwa kita tak bisa hidup seorang diri. Di saat kita sakit misalnya, tetangga terdekat merasa empati atas sakit yang dialaminya lalu tetangga yang datang bertanya sakit apa yang sedang dialami. Jika tetangga yang datang tersebut tahu cara mengobatinya maka ia pasti menyarankan agar mengikuti saran yang diberikannya.  Agar sakit yang dideritanya bisa sembuh seperti sedia kala.
Hidup rukun dan saling membantu antar sesama sangatlah dianjurkan. Dari segi sosial, kita sebagai manusia harus bisa membantu tetangga terdekat. Seperti halnya ketika melihat tetangga sedang memiliki kesibukan maka bantulah kesibukannya itu agar cepat selesai .
Sedangkan dari segi agama, sudah jelas sekali Allah SWT menganjurkan manusia agar saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Hal itu dilarkan dalam QS. Al-maidah: 2. Dimana tujuan dari tolong-menolong tersebut adalah terciptanya persatuan dan perdamaian dalam kehidupan dunia ini .

 Semalam 07-08-2021, saya pergi malam mingguan dengan memancing. Tempatnya sama seperti hari-hari sebelumnya: Lembung, Pamekasan. Selesai sh...